Lesson Learned dan Naik-naik ke Puncak Gunung
Kalau ada yang kepengen tahu siapa Agadia, Agadia adalah putri pertama teman kami, Molly. Kalau inget posting sebelum Agadia, saya pernah cerita kalau saya kangen pengen kumpul-kumpul.. (infact, I mentioned Molly name too..). Subhanallah.. ternyata, Kamis dan Jumat yang lalu kami benar-benar berkumpul. Sayangnya, bukan berkumpul dalam suasana suka :(.
Agadia hari Kamis yang lalu kritis (sudah beberapa hari dirawat di RSAB Harapan Kita) karena myocarditis yang parah. Memang beberapa bulan sebelumnya, dia sudah pernah juga di rawat di Singapur karena penyakit yang sama. Sewaktu itu, Agadia berhasil sembuh, sementara kali ini lain ceritanya.
Sejak Kamis malam, Molly sudah pasrah. Dia sudah rela kalau Agadia harus pergi. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk dia, begitu ujarnya. Molly bahkan cerita bahwa sebelum Agadia sakit yang pertama pun, dia pernah mendapat semacam feeling bahwa dia tidak akan lama menemani Agadia. Tapi lain dengan Agung, Papa Agadia (begitu Molly memanggil Agung, even after they buried her.. she still called him with that name) sangat terpukul. Well, saya bisa membayangkan bagaimana rasanya. Terus terang, sepanjang Kamis dan Jumaat itu, hari yang sangat emosional buat kami. Buat saya, ketika mendengar, melihat dan menyaksikan bagaimana mereka, dalam hati saya bersyukur, Alhamdulillah.. Naufal baik-baik saja. In the same time, saya juga feelin’ guilty.. mengapa saya bisa bersyukur disaat mereka sedih. Dan juga, saya sedih sekali melihat Agung, melihat bagaimana kosong pandangan Molly dan Agung. It’s not fair… for a parents to bury their daughter.
Tapi itu lah pelajarannya. Sekali lagi, saya diingatkan. Anak adalah titipan Tuhan, dia pasti akan berpulang kepada-Nya, sooner or later. Never take anything for granted. Pelajaran kedua yang kita dapat adalah tentang penyakit Agadia sendiri, Myocarditis, bagaimana infeksi virus bisa menyebabkan kerusakan sedemikan rupa buat jantung kecil Agadia.
Seramnya lagi, anak Mamad, Omar juga mengidap penyakit yang sama. Aduh seram deh, kebanyakan penyakit baru yang aneh-aneh nih sekarang. Mudah-mudahan Omar cepet sembuh ya Mad.
Oh iya, ini Naufal.. sedang latihan mau perform Sabtu besok di KB-nya. Saran: mendingan di save terus liat pake media player, bright-nya di tambah.. soalnya gelap banget :)








December 18th, 2006 at 2:03 pm
ahhhhhhhhh .. lutuna …
kangen juga ama Naufal …
December 19th, 2006 at 6:44 pm
masih sering sedih baca cerita Agadia :(.
tapi setuju Ka, the lesson must be learned..
December 20th, 2006 at 5:08 pm
Emang semua pasti kembali kepada-Nya tapi gw bisa ngerti terpukulnya perasaan orang tua Agadia. Semoga mereka tabah ya Rik :(
Wuiihh Naufal gayaa euuyy… sukses ya untuk acaranya nanti :)
December 27th, 2006 at 11:25 pm
Aku selalu berkaca-kaca melihat anak-anak yang sakit. aku kemaren sempet nangis sesenggukan melihat seorang bayi china di Mall bersama ibunya. dia menggunakan selang oksigen untuk bernafas. aku tak tahu kenapa. aku juga tak mengenal mereka tetapi tetep saja susah menahan air mata.
bagiku, anak skecil itu terlalu berat penderitaannya dengan selang-selang seperti itu.
semoga anak-anak kita dan anak2 seluruh dunia sehat-sehat saja dan bahagia menjalani hari-harinya.
January 3rd, 2007 at 4:15 pm
Kireeq, thanks ya atas perhatian, doa dan simpati lo dan teman2 semua. Puisinya bikin gw tersedu-sedu. Btw gw gak bisa liat Naufal deh. Laptop Agung urdu sih hehehe…
January 6th, 2007 at 2:52 am
halo mama naufal,
saya baca postingnya yg terpotong dan ingin tau lanjutannya ttg anak yg PG sampai TK di Highscope (HS), lalu saat di SD Harapan Ibu jadi kesulitan membaca. anak saya 3 tahun, dan saya tertarik utk memasukkan dia ke HS. Jadi tertarik utk tau cerita lebih lengkapnya. Thanks.
Mama Chiara