Parent’s Day
Semua orang mungkin akan tanya kenapa saya, yang notabene orang padang, paling ga suka makan rendang. Ini ada hubungannya dengan ‘trauma’ masa kecil dimana Mama akan masak rendang 3 kilo untuk konsumsi makan seminggu. Haha.. Mama saya adalah wanita bekerja, sehingga memasak rendang untuk seminggu adalah jalan yang paling ideal.
Mama saya adalah istri yang ideal. Tidak pernah sekali pun saya melihat Mama memiliki pandangan yang berbeda dengan Papa dalam hal menentukan rules di rumah kami. Jika Papa sudah bilang tidak, maka walaupun saya memohon dengan air mata, Mama tetap akan bilang tidak. Team work, pelajaran pertama dari Mama.
Mama juga wanita karier. Walaupun hanya pegawai sipil rendahan di Polda Metro Jaya, Mama selalu bisa meng-compromise pekerjaannya dan perannya sebagai ibu. Mama selalu berangkat jam 5.30 hanya karena tidak mau terlambat untuk apel pagi. Disiplin, pelajaran kedua dari Mama.
Mama juga sangat mementingkan pendidikan anaknya. Ketika anaknya sedang sibuk dikejar-kejar deadline tugas menggambar teknik, ketika anaknya sedang sibuk ga tidur 3 malam karena menyelesaikan tugas PBPAM, Mama bisa datang ke kamar saya 3 kali sehari untuk nyuapin anaknya. Supportive, pelajaran ketiga dari Mama.
Mama juga setia banget sama Papa. Waktu Papa masih aktif kerja, Mama setiap hari akan jemput Papa kerja. Bawa mobil sendirian ke Pecenongan. Di keluarga saya, Mama yang bawa mobil, hehehe. Karena si Papa trauma nabrak orang dan since then tidak pernah mau lagi bawa mobil.
Saya ingat ketika saya harus masuk kuliah di salah satu universitas swasta paling mahal di Jakarta. Saat itu, Mama harus merelakan mobilnya dilego untuk biaya masuk kuliah saya. Begitu tinggi mimpi dan harapan mereka, bahwa anak pertamana akan menjadi ‘orang’ dan walaupun harus menempuh ‘long and winding and bumpy’ road, they don’t care. They want their children to have the educiation thay couldn’t get.
Semua ini baru segelintir dari jutaan pelajaran hidup yang saya dapat dari Mama (dan Papa).. Walaupun dulu, ketika saya masih tinggal bersama mereka, saya merasa jadi orang paling merana sedunia karena dilarang pulang lebih malam dari jam 9 malam, karena dilarang pacaran, karena dilarang nonton midnite, karena dilarang ke cafe, dan jutaan larangan lainnya. Tapi sekarang, saya yakin seratus persen, saya tidak akan seperti sekarang jika bukan karena Mama dan Papa..
Besok, orang-orang disini merayakan Mother’s Day. Biasanya, saya tidak percaya dengan semua craps sejenis valentine’s day, etc. Saya personally think that this is just another consumerism. However, being away from home, make me miss my parent. Hari ini apalagi, ngeliat town center dipenuhi oleh orang beli bunga dan hadiah untuk their mother. Kangen pengen pulang.. :(
Happy parent’s day Ma, Pa!
(Yes, tomorrow is officially my parent’s day..)









March 2nd, 2008 at 2:56 am
Wah sudah hampir selesai nih tugas belajarnya? Selamat ya. Giat belajar biar cepat pulang :)
March 3rd, 2008 at 10:49 pm
hmmm… seneng liat rika nulis tentang mama di atas, ternyata….. :-)
Happy studying ya bu.. ya giat biar cepet pulang…
March 4th, 2008 at 6:14 pm
hai mbak, salam kenal…
saya juga orang minang, makan rendang siy ngga trauma…tapi…ketika bangun pagi udah ada
1. wajan yang bisa bikin gue “bath-up” didalamnya.
2. 5 kg daging sapi
3. santan berbungkus2x…
maka…
selesai sekolah jam 1.30 siang, gue akan….
main2x…kelayapan…etc…pokoknya nyampe rumah jam 6 kitka rendang diperkirakan udah kelar… :P
*daripada disuruh ngaduk, adddddooooohhhh…..*